Kamis, 15 Agustus 2013
Ilustrasi. (TEMPO/Gunawan Wicaksono)


Ditulis oleh: Sirajudin Hasbi


Pertandingan Persib melawan Persija pada 22 Juni 2013 batal digelar gara-gara insiden pelemparan batu dan benda lainnya ke bus yang mengangkut rombongan pemain dan ofisial Persib. Dan itu bukan kejadian pertama.

Seperti tertulis di buku “Sepak Bola Tanpa Batas”, pada 4 September 2005, Persib mogok bertanding ketika akan dijamu oleh Persija, lantaran merasa tidak aman setelah menerima teror dari pendukung. Alhasil saat pemain Persija siap bertanding di Lebak Bulus, pemain Persib justru tengah dalam perjalanan pulang. Tak ada jaminan keamanan dari panitia.

Konflik Persib vs Persija juga bukan satu-satunya di sepak bola Indonesia. Ada banyak permusuhan antarsuporter. Misalnya Bonek (Persebaya) vs Aremania (Arema Malang). Di Jawa Tengah ada Panser Biru dan Snex (PSIS Semarang) melawan Jet Man dan Banaspati (Persijap Jepara). Masih banyak lagi.

Para suporter yang rentan berkelahi ini awalnya hadir ke arena dengan maksud mendukung tim sekaligus menaikkan mental dan moral. Lalu setelah itu, mereka juga memberikan teror kepada tim lawan — lewat saling sindir dalam nyanyian, saling ejek, hingga saling lempar botol dan benda keras. Tidak hanya di arena pertandingan tetapi hingga luar stadion dan jalanan.

Memang benar, kerusuhan sepak bola sudah terjadi sebelum ada organisasi/kelompok suporter di Indonesia. Tetapi ada hipotesis yang mengatakan, konflik antarsuporter justru lebih kerap terjadi setelah para suporter terorganisasi dan punya identitas jelas.

Terbentuknya Komunitas Suporter


Fenomena penonton berduyun-duyun datang ke stadion sudah ada di Indonesia sejak lama. Setidaknya, saat mulai bergulirnya Galatama dan Liga Perserikatan di akhir dekade 1970-an, secara reguler banyak penonton yang menonton laga secara langsung. 

Hanya saja, penonton zaman dulu tidak punya organisasi atau komunitas. Mereka hanya muncul menjelang pertandingan dan setelahnya mereka bubar sendiri-sendiri.

Baru pada dekade 1980-an, muncul komunitas suporter yang punya identitas jelas dan memiliki kerumunan massa dalam jumlah besar. Komunitas tersebut adalah Bonek (Bondo Nekat), pendukung Persebaya.

Dalam buku “Bonek: Komunitas Suporter Pertama dan Terbesar di Indonesia” karya Fajar Junaedi, dikisahkan ribuan suporter Persebaya bergerak ke Jakarta dari Surabaya dan kota lain di Jawa Timur. Dengan identitas jelas dan atribut berwarna hijau, mereka hendak mendukung tim kesayangan berlaga di Senayan.

Komunitas suporter kedua yang layak menjadi penanda dunia suporter di Indonesia adalah Aremania. Wadah suporter klub Arema Malang ini muncul pada Liga Indonesia III tahun 1997/1998. Klub tidak membidani lahirnya Arema, tetapi ada pengaruh dari salah satu pemain asing asal Chile, Juan Rubio. 

Dialah yang membawa pengaruh gaya bernyanyi dan gerakan-gerakan dalam yel-yel Aremania untuk mendukung Arema Malang bertanding.

Pasoepati (Pasukan Suporter Pelita Sejati), yang mendukung Pelita Solo, berdiri pada 9 Februari 2000. Kelompok suporter ini dikenal cukup solid. Meskipun Pelita kemudian hijrah dari Solo, Pasoepati tetap ada dan mendukung klub kebanggaan Solo, Persis Solo.  

Langkah berdirinya Pasoepati ini kemudian diikuti dengan berdirinya kelompok suporter lain, seperti Slemadia (pendukung PSS Sleman) pada 22 Desember 2000, Panser Biru (Semarang) yang dideklarasikan pada 5 Februari 2001, dan lain sebagainya. 

Kini, hampir semua klub di Indonesia sudah memiliki kelompok suporter masing-masing. Bentuknya bisa menyerupai organisasi formal yang terstruktur atau hanya berbentuk komunitas tanpa susunan organisasi formal. 

Yang mungkin sama dari setiap kelompok suporter ini adalah militansi mereka dalam mendukung tim kebanggaannya. “Mati urip, toh nyawa, tetep mbela tim kesayanganku.”

Mencari Solusi


Keberadaan kelompok suporter ini di satu sisi bisa meningkatkan kreativitas dalam mendukung klub berlaga. Seperti terlihat di setiap pertandingan sepak bola, suporter punya beragam kreasi dan nyanyian. Tetapi, di sisi lain, potensi konfliknya tinggi. Ada identitas yang berusaha dipertahankan mati-matian sehingga ketika ada pertentangan yang diikuti dengan saling ejek, sudah bisa ditebak akan berujung pada kericuhan.

Masalahnya makin pelik ketika yang berkelahi bukan suporter, melainkan aliansi kelompok suporter — karena prinsip “Musuh temanku, berarti musuhku juga.” Mengurai konflik pun akan makin sulit. 

Mungkin yang pertama-tama harus dilakukan adalah menyelenggarakan pelatihan bagi aparat keamanan agar mereka bisa langsung mengantisipasi bibit kerusuhan. Seperti di Eropa, jika ada seseorang yang berperilaku agresif, dia akan langsung dicokok sebelum orang lain berperilaku serupa.

Petugas keamanan juga mau tak mau harus melihat ke arah penonton, bukan menikmati pertandingan sepak bola gratis.

Meningkatkan kapasitas petugas keamanan lebih baik ketimbang menyelenggarakan pertandingan tanpa penonton, yang akan membuat atmosfer kemeriahan hilang.
 
Selain itu, ada baiknya para suporter diberi pemahaman bahwa mereka sebenarnya “boleh” saja berbuat onar, sepanjang targetnya adalah orang-orang yang ingin ribut juga.

Di Inggris dan negara Eropa lain, kerusuhan antarsuporter juga ada, tetapi itu hanya antara mereka yang memang ingin ribut. Penonton lain — anak-anak, perempuan, keluarga — tetap nyaman menonton.

Bagaimana dengan pemain? Janganlah mereka dilibatkan dalam konflik. Pada dasarnya mereka orang profesional yang sungguh-sungguh menjalankan pekerjaan. Mereka juga bisa saja pindah ke klub lain. Tujuan mereka jelas untuk mencari penghidupan dan mengembangkan karir, jadi tidak sepatutnya diamuk suporter dengan alasan rivalitas tertentu.

Anda punya usul menghentikan kekerasan antarsuporter?
sumber:http://id.olahraga.yahoo.com/blogs/arena/mencari-cara-menghentikan-kekerasan-antarsuporter-062602305.html

0 comments:

Blog Archive

About Me

Foto Saya
annisa
hidup adalah satu mangkuk penuh buah cherry. ada yang manis,ada yang kecut, ada yang hampir busuk. maka kita akan selalu untung-untungan dalam mencomot buah cherry itu. kata orang di amerika sana
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

Share

Share

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail