Sabtu, 09 Juni 2012
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya pernah ditanya apakah kita boleh menyiapkan kuburan untuk diri sendiri atau orang lain sebelum kita atau orang lain tersebut meninggal dunia? lalu bagaimana hukumnya?

Terima kasih.

Wassalamu 'alaikum Wr. Wb

Syarif


Jawaban:

Assalamualaikum 'Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Alhamdulilahi Rabbil 'alamin, wash-shalatu was-salamu 'alaa Sayyidina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihihi ajma'in, wa ba'du

Boleh-boleh saja bila seseorang semasa hidupnya sudah menyiapkan sepetak tanah yang nanti akan menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir. Sebab di masa kini kita tahu bahwa kuburan sudah semakin sempit dan sekedar untuk dikuburkan pun harus bayar. Kalau sejak masih hidup seseorang sudah membeli tanah untuk kuburannya sendiri, Insya Allah tidak akan menyusahkan keluarganya untuk sering-sering membayar retribusi 'parkir' sepanjang zaman.

Sebagaimana kita tahu, bila pihak keluarga tidak membayar biaya itu secara rutin, seringkali kuburan itu dimanfaatkan lagi untuk menguburkan orang lain. Walau pun sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah dari sisi hukum syariatnya. Sebagaimana kita tahu bahwa hal itulah yang terjadi di Ma'la, pekuburan di kota Mekkah dan Baqi' di kota Madinah.

Tapi kami ingin ingatkan bahwa sebenarnya bukan kuburan yang seharusnya dikedepankan, tapi apa yang akan kita bawa masuk kuburan, itulah yang seharusnya diperhatikan. Apa yang kita bawa masuk ke dalam kuburan itu tentu saja bukan harta benda, karangan bunga atau siraman air mawar, tetapi amal kebajikan yang kita lakukan selama hidup di dunia. Dan amal kebajikan ini harus juga diimbangi dengan pemahaman ilmu syariah yang benar, agar jangan sampai kita kecewa akhirnya, karena kita merasa sudah banyak beramal tapi sia-sia karena keawaman kita sendiri.

Dengan pemahaman syariah itu, kita tahu bahwa amal-amal kebajikan itu ternyata harus didasari dengan aqidah yang benar, karena amal seseorang yang landasan aqidahnya lemah hanya akan menghasilkan kesia-siaan saja. Misalnya, ada orang yang kerja setiap hari menyumbang bencana alam, sedekah fakir miskin dan menyayangi anak yatim. Namun juga rajin ke 'orang pintar' (baca : dukun), tukang sihir, peramal, tukang santet dan sejenisnya. Ini tentu sangat kontradiktif, karena perbuatan itu jelas-jelas syirik dan mengakibatkan pelakunya tidak terampuni dosanya di akhirat nanti. Kecuali bila di dunia ini sempat bertaubat. Sebagaimana firman Allah SWT :

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa : 48)

Ada juga orang yang punya penghasilan baik dan lalu baik hati kepada orang lain, suka memberi bantuan dan sebagainya, tapi sayang sekali cara mendapatkan uangnya dengan cara yang ribawi. Menyimpan uangnya pun di tempat-tempat yang tidak lepas dari transaksi ribawi pula. Maka kebaikan amalnya akan dirusak oleh dosa-dosa ribawi yang dilakukannya, baik secara sadar atau tidak sadar. Sebab orang yang makan harta riba atau hidup dengan cara riba akan diperangi oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan, maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya. (QS. Al-Baqarah : 278-279)

Pesan kami adalah bahwa bekal untuk masuk kuburan itu bukan berhenti kepada amal baik saja, tapi juga tanpa membawa amal keburukan. Harus diperhatikan bahwa kita sejak masih hidup di dunia ini sudah terbebas dari segala macam dosa, baik yang terkait dengan syirik atau pun pelanggaran-pelangaran syariat. Buat apa masuk kubur dengan amal yang banyak tapi sekaligus juga dengan dosa-dosa yang jauh lebih besar dan berkualitas. Maka amal baik itu harus diimbangi dengan pemahaman syariah yang baik pula.

Silahkan siapkan kuburan untuk rumah masa depan, tapi jangan lupa siapkan juga bekal dan bawaannya. Sebab buat orang yang meninggal, kuburan hanya sekedar pintu masuk, yang perlu disiapkan secara serius justru persiapan setelah melewati pintu tersebut.

Wallahu A'lam Bish-Showab,
Wassalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.

0 comments:

About Me

Foto Saya
annisa
hidup adalah satu mangkuk penuh buah cherry. ada yang manis,ada yang kecut, ada yang hampir busuk. maka kita akan selalu untung-untungan dalam mencomot buah cherry itu. kata orang di amerika sana
Lihat profil lengkapku
Share

Share

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail